Lemahnya Pengawasan Industri, Wakil DPRD Cilegon Desak Pembentukan Laboratorium Lingkungan

- Penulis

Jumat, 23 Mei 2025 - 18:38 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

CILEGON, PUSAT BERITA – Wakil Ketua DPRD Kota Cilegon, Masduki, melontarkan kritik tajam terhadap lemahnya pengawasan lingkungan di kota industri tersebut. Ia menyoroti absennya laboratorium lingkungan milik pemerintah daerah yang membuat pengawasan terhadap dampak industri menjadi lemah dan bergantung pada laporan pihak ketiga.

“Bagaimana kita bisa melindungi rakyat kalau Dinas Lingkungan Hidup (DLH) hanya menerima laporan dari laboratorium yang dibayar oleh industri? Itu bukan pengawasan, tapi ketergantungan. Dan ketergantungan ini sangat berbahaya,” tegas Masduki dalam pernyataan kepada media, Jumat, 23 Mei 2025.

Masduki mengungkapkan bahwa dalam fase commissioning PT Lotte Chemical Indonesia (LCI), salah satu proyek petrokimia terbesar di Asia Tenggara, DLH Kota Cilegon hanya menerima data lingkungan dari laboratorium swasta yang dibiayai oleh LCI. Ia menyebut kondisi ini sangat timpang karena pemerintah tidak memiliki kemampuan untuk melakukan verifikasi independen.

“Kita hanya jadi penerima data. Tidak ada alat kontrol, tidak ada hak verifikasi. Ini membuat kita tak lebih dari penonton,” ujarnya.

Menurutnya, Kota Cilegon tak boleh terus menerus menjadi “kota industri tanpa kendali”. Masduki mendesak agar pengembangan industri sejalan dengan penguatan institusi pengawasan negara. Salah satunya, dengan segera membentuk Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Laboratorium Lingkungan yang netral dan terakreditasi.

“Negara harus hadir. Kehadiran itu dimulai dari alat paling dasar: laboratorium pengujian lingkungan. Kalau tidak ada, bagaimana bisa menegakkan hukum lingkungan?” katanya.

Baca Juga :  Banjir Bandang Landa Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah, Akibat Hujan Lebat

Sementara itu, pihak PT Lotte Chemical Indonesia melalui Senior Assistant Manager General Affair, Mohamad Kalimi, menyatakan bahwa LCI telah menunjuk laboratorium pihak ketiga yang telah terakreditasi untuk melakukan pengawasan selama masa commissioning.

“Penunjukan laboratorium pihak ketiga dilakukan sebagai bagian dari upaya memastikan seluruh proses berjalan sesuai ketentuan,” jelas Kalimi.

Namun bagi Masduki, akreditasi saja tidak cukup. Ia menegaskan bahwa dalam prinsip good governance, pengawas tidak boleh dibiayai oleh pihak yang diawasi.

“Akreditasi bukan jaminan netralitas kalau dananya dari yang diawasi. Itu prinsip dasar pengawasan yang sehat,” tegasnya.

Masduki juga menyayangkan lambannya Pemkot Cilegon dalam membentuk UPTD Laboratorium Lingkungan, padahal dasar hukum untuk itu sudah tertuang jelas dalam UU No. 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup, serta UU No. 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah.

“Ini bukan soal anggaran, tapi komitmen politik. Kalau kita bisa fasilitasi investasi triliunan rupiah, masa bikin laboratorium kecil saja tidak bisa?” sindirnya.

Ia mendesak agar pembentukan laboratorium ini dimasukkan dalam prioritas APBD Perubahan 2025, lengkap dengan naskah akademik, dokumen teknis kelembagaan, pengadaan alat dasar, dan pelatihan tenaga ahli.

“Laboratorium ini akan jadi benteng terakhir kita. Kita tidak boleh menunggu bencana pencemaran besar baru bertindak. Pencegahan adalah bentuk perlindungan tertinggi,” tutup Masduki.

Satu tanggapan untuk “Lemahnya Pengawasan Industri, Wakil DPRD Cilegon Desak Pembentukan Laboratorium Lingkungan”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel pusat-berita.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Kapolri Tinjau Langsung, Kondisi Arus Balik Lebaran 2026 di Pelabuhan Bakauheni
Andri Permana Gelar Reses Kedua, Masyarakat Keluhkan Akses BPJS dan Infrastruktur Lingkungan
Pantauan Arus Balik Lebaran 2026 Bakauheni-Merak Lancar
SMIT: Perda No 2 Tahun 2025 Tentang Hilirisasi, Hanya Untungkan Orang Kuat Lokal
Tim Dokes Polda Lampung Gelar Pengecekan Faskes di Posko Kesehatan Pelabuhan Bakauheni
Polemik Penahanan Mantan Menteri Agama RI, PB SEMMI Pertanyakan Integritas KPK
Arus Balik Lebaran 2026: ASDP Siagakan Layanan 24 Jam dan Antisipasi Lonjakan Penumpang
Musyawarah Dusun Memanas, Desak Pengembang dan Pemerintah Bertanggung Jawab Atas Ancaman Banjir
Berita ini 3 kali dibaca

Berita Terkait

Sabtu, 28 Maret 2026 - 16:46 WIB

Kapolri Tinjau Langsung, Kondisi Arus Balik Lebaran 2026 di Pelabuhan Bakauheni

Sabtu, 28 Maret 2026 - 13:09 WIB

Andri Permana Gelar Reses Kedua, Masyarakat Keluhkan Akses BPJS dan Infrastruktur Lingkungan

Jumat, 27 Maret 2026 - 23:34 WIB

Pantauan Arus Balik Lebaran 2026 Bakauheni-Merak Lancar

Jumat, 27 Maret 2026 - 21:09 WIB

SMIT: Perda No 2 Tahun 2025 Tentang Hilirisasi, Hanya Untungkan Orang Kuat Lokal

Kamis, 26 Maret 2026 - 23:33 WIB

Polemik Penahanan Mantan Menteri Agama RI, PB SEMMI Pertanyakan Integritas KPK

Berita Terbaru

Kondisi Penumpang di dalam Kapal Fery Dari Bakauheni - Merak (Foto: Agung/Pusat-Berita)

Lampung

Pantauan Arus Balik Lebaran 2026 Bakauheni-Merak Lancar

Jumat, 27 Mar 2026 - 23:34 WIB