Reklamasi dan Industri di Bojonegara Hancurkan Ruang Hidup Nelayan

- Penulis

Minggu, 10 Agustus 2025 - 21:31 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

SERANG, PUSATBERITA – Reklamasi dan perluasan kawasan industri di pesisir Bojonegara, Kabupaten Serang, Banten, memaksa nelayan setempat melaut lebih jauh hingga tiga jam perjalanan ke Pontang dan Karangantu. Padahal, dulu mereka hanya butuh setengah jam untuk mendapatkan ikan.

Samun, nelayan Desa Bojonegara, mengatakan perubahan itu terjadi sejak memperluas kawasan industri di pesisir. Gunung dikeruk, tanahnya digunakan untuk menimbun bibir pantai yang dulu menjadi halaman depan kampung nelayan.

“Dulu kapal cukup berlayar setengah jam, sudah dapat banyak ikan. Sekarang harus sampai Pontang, bahkan Karangantu,” kata Samun, Sabtu (10/8/2025).

Reklamasi yang berlangsung bertahun-tahun mengubah garis pantai dan merusak ekosistem laut. Hutan bakau, tempat ikan bertelur dan mencari makan, kini tertutup tanah urugan. Akibatnya, biaya operasional nelayan membengkak.

“Solar dan bensin lebih banyak, sementara hasilnya tidak sebanding,” ujar Samun.

Kini, akses kapal nelayan menuju laut dari Kampung Lumalang hanya melalui Sungai Lumalang atau Kali Asin yang kian menyempit, diapit aktivitas industri PT Samudra Marine Indonesia (SMI) 1 dan SMI 2. Samun mengingat, ombak dulu tak jauh dari jembatan layang menuju SMI 1.

Baca Juga :  Walhi: Tata Ruang Cilegon Dikuasai Industri, Kampung dan Ruang Hijau Tergeser

“Sekarang semua sudah diurug. Coba hitung, berapa luas laut yang hilang?” katanya.

Selain jarak tangkap yang semakin jauh, nelayan juga harus menghadapi pagar jetty dan padatnya lalu lintas kapal tongkang di perairan Bojonegara. Kondisi ini membuat ruang gerak perahu kayu kecil semakin terbatas.

“Airnya keruh. Sudah tidak ada tempat ikan hidup karena kerusakan, ” ungkapnya.

Mastari, nelayan lainnya, menyebut keberadaan pelabuhan dan industri belum memberi manfaat nyata bagi warga. “Tidak ada lokasi tangkap yang tersisa. Industri tidak berdampak pada kesejahteraan masyarakat sekitar, apalagi nelayan,” ujarnya.

Menurut Mastari, puluhan perusahaan telah mengambil alih ruang hidup nelayan. Kompensasi yang dijanjikan jarang terealisasi. “Minimal kalau Lebaran ada sembako atau hewan kurban yang dibagikan ke nelayan. Tapi jarang ada,” katanya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel pusat-berita.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Kabel Terjuntai Depan Kampus Raharja Bahayakan Pengguna Halte
Bahar Bin Smith Jadi Tersangka Penganiayaan Banser Tangerang
‎Peletakan Batu Pertama Pondok Pesantren Barahat Sapu Jagat
Diduga ada Kebocoran Gas dari Pabrik Kimia di PT Vopak Merak
Hujan Deras Picu Ambruknya TPT SMPN 15 Cilegon
Pengurus Wilayah Jakarta Raya Periode 2026 – 2028 Resmi Dilantik
Diduga Langgar Perizinan, Produksi Himalaya Es Kristal di Tangerang Diprotes Warga
Perubahan Jabatan di Lingkungan Kesehatan Kota Tangerang, Sekretaris Karang Taruna Benda: Kami Menyambut Baik Biar Ada Perbaikan
Berita ini 0 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 4 Februari 2026 - 02:10 WIB

Kabel Terjuntai Depan Kampus Raharja Bahayakan Pengguna Halte

Minggu, 1 Februari 2026 - 16:41 WIB

Bahar Bin Smith Jadi Tersangka Penganiayaan Banser Tangerang

Minggu, 1 Februari 2026 - 14:00 WIB

‎Peletakan Batu Pertama Pondok Pesantren Barahat Sapu Jagat

Sabtu, 31 Januari 2026 - 16:38 WIB

Diduga ada Kebocoran Gas dari Pabrik Kimia di PT Vopak Merak

Sabtu, 31 Januari 2026 - 16:00 WIB

Hujan Deras Picu Ambruknya TPT SMPN 15 Cilegon

Berita Terbaru

Hasil Carabo Cup: Arsenal Menang Tipis 1-0 Atas Chelsea (Foto: The Guardian)

Sepak Bola

Meriam London Singkirkan The Blues Dari Carabao Cup

Rabu, 4 Feb 2026 - 08:46 WIB

The Gunners Pesta Gol di Kandang Leeds United (Foto: DetikSport)

Olahraga

The Gunners Pesta Gol Saat Tandang ke Markas Leeds United

Minggu, 1 Feb 2026 - 19:59 WIB