Truk ODOL Masih Bebas Beroperasi, PKC PMII Banten Soroti Lemahnya Implementasi Kebijakan

- Penulis

Minggu, 7 Desember 2025 - 01:38 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Sahril Anwar, Bidang Advokasi Hukum dan HAM PKC PMII Banten

Sahril Anwar, Bidang Advokasi Hukum dan HAM PKC PMII Banten

SERANG, PUSAT-BERITA— Keberadaan truk Over Dimension Over Loading (ODOL) di Provinsi Banten kembali menuai sorotan. Meski pemerintah daerah telah menerbitkan kebijakan pembatasan jam operasional, praktik di lapangan dinilai masih jauh dari harapan. Lemahnya pengawasan dan penegakan hukum disebut menjadi penyebab utama kebijakan tersebut tidak berjalan efektif.

Provinsi Banten memiliki posisi strategis sebagai penyangga Ibu Kota Jakarta, dengan keberadaan pelabuhan, kawasan industri, dan infrastruktur logistik berskala nasional. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, aktivitas truk ODOL justru memunculkan berbagai persoalan, mulai dari kemacetan lalu lintas, kerusakan jalan, peningkatan risiko kecelakaan, hingga gangguan terhadap ekosistem permukiman warga.

Menurut Sahril Anwar, Bidang Advokasi Hukum dan HAM PKC PMII Banten, fenomena ini mencerminkan dilema klasik dalam kebijakan pembangunan, di mana kepentingan pertumbuhan ekonomi berbasis industri kerap berbenturan dengan keselamatan serta kesejahteraan masyarakat.

“Masalah truk ODOL di Banten bukan karena ketiadaan regulasi, melainkan lemahnya implementasi dan buruknya koordinasi antarinstansi,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Selasa.

Polemik truk ODOL semakin mengemuka setelah diterbitkannya Surat Keputusan Gubernur Banten Nomor 567 Tahun 2025 yang mengatur pembatasan jam operasional kendaraan angkutan barang, yakni pukul 22.00 hingga 05.00 WIB. Namun, di lapangan masih banyak truk ODOL yang beroperasi di luar jam yang ditentukan di berbagai kabupaten dan kota di Banten.

Sahril menilai aparat kepolisian yang seharusnya menjadi garda terdepan penegakan kebijakan justru terkesan abai. Padahal, Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan secara tegas menyebutkan bahwa tugas kepolisian lalu lintas mencakup penegakan hukum, pelayanan, pemeliharaan ketertiban, serta edukasi dan manajemen lalu lintas.

Baca Juga :  Demo Jilid II: Tokoh Pemuda Kramatwatu Mengecam Truk ODOL

“Inkonsistensi kebijakan ini menunjukkan lemahnya komunikasi dan sinergi antarlembaga pemerintah. Jika kondisi ini terus dibiarkan, kepercayaan publik terhadap pemerintah akan semakin menurun,” tegasnya.

Secara nasional, pembatasan dimensi dan muatan kendaraan sebenarnya telah diatur melalui Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 60 Tahun 2019 tentang Penyelenggaraan Angkutan Barang di Jalan. Namun, menurut PKC PMII Banten, lemahnya pengawasan dan adanya kompromi antara kepentingan ekonomi dan penegakan hukum membuat kebijakan tersebut tidak efektif.

Aktivitas truk ODOL yang masih marak dinilai tidak hanya berdampak pada kerusakan infrastruktur, tetapi juga berimplikasi pada stabilitas sosial, keselamatan warga, serta keadilan bagi pengguna jalan lainnya. Karena itu, penanganan ODOL harus ditempatkan dalam kerangka keadilan sosial dan keberlanjutan lingkungan, bukan semata efisiensi ekonomi.

“Isu ODOL bukan hanya soal logistik, tapi menyangkut keselamatan warga dan masa depan infrastruktur publik. Regulasi tanpa penegakan tegas hanya akan menjadi dokumen formal tanpa makna,” katanya.

Sebagai bentuk sikap kritis, PKC PMII Banten menyampaikan sejumlah rekomendasi, di antaranya mendesak aparat kepolisian dan Dinas Perhubungan Provinsi Banten untuk melakukan pengawasan berkala di titik-titik strategis, menegakkan hukum secara tegas dan konsisten terhadap pelanggar, membuka transparansi data pelanggaran pembatasan jam operasional, serta meminta Kapolda Banten melakukan evaluasi kinerja seluruh Polres di kabupaten/kota dan memberikan sanksi tegas terhadap aparat yang dinilai tidak profesional.

Follow WhatsApp Channel pusat-berita.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Basudara Aman Rangkul Aktivis Muda Sulut di Jakarta, Dorong Pembangunan Daerah
Ripan Ardiana Desak Transparansi Pengelolaan Lapas Cibinong
Aliansi Pemuda Laporkan Dugaan Pembubaran Ibadah ke Polresta Tangerang
Kasatpol PP Kabupaten Tangerang Diduga Lecehkan Anak Buah
Komite Perempuan SEPETA Dorong Perlindungan Pekerja Transportasi Online Perempuan
BMM Salurkan Air Bersih Pada Warga, Akibat 5 Bulan Kesulitan Dapatkan Air Bersih Karena Dampak El Nino
Tim Kuasa Hukum Dorong Perlindungan Korban dan Ajukan Amicus Curiae dalam Kasus Kekerasan Seksual Santriwati
Ibadah GKPI Mauk-Sepatan Dibubarkan, Jemaat Diancam Sajam
Berita ini 44 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊

Berita Terkait

Rabu, 23 September 2026 - 23:19 WIB

Basudara Aman Rangkul Aktivis Muda Sulut di Jakarta, Dorong Pembangunan Daerah

Rabu, 23 September 2026 - 18:53 WIB

Ripan Ardiana Desak Transparansi Pengelolaan Lapas Cibinong

Selasa, 22 September 2026 - 05:06 WIB

Aliansi Pemuda Laporkan Dugaan Pembubaran Ibadah ke Polresta Tangerang

Senin, 21 September 2026 - 18:25 WIB

Kasatpol PP Kabupaten Tangerang Diduga Lecehkan Anak Buah

Senin, 21 September 2026 - 15:33 WIB

Komite Perempuan SEPETA Dorong Perlindungan Pekerja Transportasi Online Perempuan

Berita Terbaru

Ketua DPD Generasi Muda Pujakesuma Kabupaten Bogor Ripan Ardiana mendesak transparansi dan evaluasi pengelolaan Lapas Kelas IIA Cibinong. (Foto/dokumen pribadi)

Jawa Barat

Ripan Ardiana Desak Transparansi Pengelolaan Lapas Cibinong

Rabu, 23 Sep 2026 - 18:53 WIB

Ilustrasi Satpol PP Kabupaten Tangerang

Banten

Kasatpol PP Kabupaten Tangerang Diduga Lecehkan Anak Buah

Senin, 21 Sep 2026 - 18:25 WIB