Oleh Topan Bagaskara | Ketua Umum SEMMI Cabang Tangerang
Ada sesuatu yang agak usil dari pertemuan Jokowi dengan Bocor Alus Tempo di Solo. Sekilas, yang datang memang tim jurnalistik. Tetapi secara simbolik, yang masuk ke ruang Jokowi adalah Tempo.
Mereka datang, berbincang, bercanda, kemudian selesai. Tetapi dalam politik, hampir tidak ada pertemuan yang benar-benar sesederhana itu. Apalagi ketika yang datang membawa nama Tempo, sebuah nama yang dalam pertarungan politik tertentu sudah memiliki beban persepsinya sendiri.
Ini penting. Sebab Tempo, dalam konteks politik tertentu, bukan lagi sekadar nama media. Ia telah membawa ingatan, emosi, pengalaman, bahkan posisi politik tertentu dalam ingatan publik. Ketika sebuah nama media sudah masuk ke dalam pertarungan persepsi politik, cara seorang tokoh memperlakukannya dapat dibaca lebih jauh daripada sekadar hubungan antara narasumber dan wartawan.
Karena itu, saya mencoba membaca peristiwa tersebut dari kacamata yang saya sebut “Prabowoisme”. Bukan sebagai ideologi dan bukan pula sebagai istilah akademik, melainkan sebagai cara melihat bagaimana kekuasaan memperlakukan simbol yang sudah lebih dulu diberi makna sebagai sesuatu yang kritis, mengganggu, atau bahkan mengancam. Dalam politik, simbol yang sama bisa menghasilkan makna berbeda ketika berada di tangan dan panggung yang berbeda.
Yang menarik bukan semata-mata mengapa Jokowi menerima Bocor Alus, melainkan bagaimana ia menerima simbol yang dibawa oleh Bocor Alus itu. Ia tidak terlihat menjauh, tidak membangun suasana defensif, dan justru membiarkan pertemuan berlangsung cair.
Di mata publik, respons semacam itu menghasilkan makna tersendiri. Kelihatannya sederhana, tetapi politik memang sering bekerja melalui hal-hal yang terlihat sederhana.
Murray Edelman membantu membaca bagian ini. Menurutnya, politik tidak hanya dibentuk oleh kebijakan atau tindakan konkret, tetapi juga oleh cara realitas dikonstruksi melalui simbol. Sebuah peristiwa tidak selalu memiliki satu makna yang tetap. Konteks dapat mengubah cara publik membaca sebuah tindakan, bahkan ketika objeknya tidak berubah.
Tempo tetap Tempo. Bocor Alus tetap Bocor Alus. Yang berubah adalah panggung tempat ia hadir. Jokowi tidak mengubah simbolnya. Ia mengubah panggungnya.
Panggung menjadi penting karena publik tidak hanya memperhatikan apa yang dikatakan seorang politisi, tetapi juga bagaimana ia terlihat ketika menghadapi sesuatu. Apakah ia marah, defensif, tertekan, atau justru santai. Cara seorang aktor politik menghadapi situasi tertentu ikut membentuk persepsi tentang posisi dan kekuatannya.
Erving Goffman menyebut proses semacam ini sebagai dramaturgi. Manusia, dalam interaksi sosial, tidak hanya bertindak tetapi juga mengelola kesan tentang dirinya di hadapan orang lain. Politik memang bukan teater, tetapi politisi tetap berada di atas panggung dan publik menjadi penontonnya. Gestur, ekspresi, cara berbicara, sampai cara seseorang merespons situasi dapat menjadi bagian dari komunikasi politik.
Jokowi dalam pertemuan itu tentu berbicara dengan Bocor Alus. Tetapi pada saat yang sama, ia juga sedang terlihat oleh publik. Kita tidak tahu apa yang terjadi di balik panggung dan tidak memiliki dasar untuk menebak apa yang sesungguhnya ada dalam pikirannya.
Yang dapat dibaca hanyalah apa yang tampak di depan kamera: sebuah pertemuan yang berlangsung relatif cair dengan simbol yang dalam konteks tertentu justru memiliki beban politik.
Di sinilah psikologi politik ikut masuk. Dalam persepsi publik, ancaman tidak hanya ditentukan oleh apa yang dikatakan atau dilakukan pihak lain, tetapi juga oleh bagaimana seorang aktor meresponsnya. Respons yang tenang dapat dibaca sebagai kepercayaan diri. Sebaliknya, respons yang terlalu defensif dapat membuat sebuah kritik terlihat jauh lebih besar daripada sebelumnya.
Saya tidak mengatakan bahwa semua itu pasti merupakan strategi Jokowi. Tidak ada bukti yang cukup untuk memastikan bahwa pertemuan tersebut sejak awal dirancang sebagai pesan politik tertentu. Bisa saja suasananya memang spontan dan candaan yang muncul memang sekadar candaan.
Namun politik tidak selalu bekerja berdasarkan niat awal pembuat pesan. Sebuah gestur dapat menghasilkan makna politik setelah dilihat dan ditafsirkan publik.
Persoalannya kemudian menjadi lebih menarik ketika simbol tersebut dibaca dalam konteks Prabowo. Jika Tempo sudah memiliki citra tertentu dalam persepsi politik yang mengitari Prabowo, maka cara Jokowi memperlakukan Tempo membuka ruang perbandingan tanpa harus ada serangan langsung.
Jokowi tidak perlu mengatakan bahwa dirinya lebih santai, lebih terbuka, atau lebih mampu menghadapi kritik. Cukup dengan menunjukkan respons yang berbeda terhadap simbol yang sama, perbandingan dapat muncul dengan sendirinya.
Model komunikasi semacam ini justru lebih halus daripada serangan politik terbuka. Tidak ada tuduhan yang harus dibantah, tidak ada nama yang harus disebut, dan tidak ada lawan yang perlu diserang. Publik diberi sebuah adegan, kemudian dipersilakan menyusun sendiri maknanya.
Prabowo bahkan tidak harus hadir di Solo untuk masuk ke dalam perbandingan tersebut. Dalam politik simbol, seseorang tidak selalu harus hadir secara fisik untuk menjadi bagian dari sebuah adegan.
Konteks politik dapat menghadirkan seseorang melalui ingatan dan persepsi publik. Ketika dua aktor dipahami memiliki cara berbeda dalam menghadapi simbol yang sama, perbandingan sudah bekerja meskipun tidak pernah diumumkan.
Tentu saja, saya tidak sedang mengatakan bahwa Jokowi sengaja mengatur seluruh pertemuan itu sebagai pesan kepada Prabowo. Klaim semacam itu akan terlalu jauh. Fakta dan tafsir tetap harus dipisahkan. Faktanya adalah Bocor Alus bertemu Jokowi. Tafsirnya adalah bagaimana pertemuan tersebut dapat dibaca sebagai permainan simbol dan persepsi politik.
Tetapi justru di wilayah tafsir itulah politik menjadi menarik. Sebuah pertemuan mungkin selesai dalam hitungan jam, tetapi persepsi yang ditimbulkannya dapat berjalan jauh lebih lama. Sebuah candaan mungkin selesai ketika kamera dimatikan, tetapi maknanya dapat terus beredar setelahnya.
Bocor Alus datang membawa sebuah simbol yang sudah memiliki sejarah persepsi politik. Jokowi tidak melawan simbol tersebut. Ia menerimanya dalam suasana yang berbeda, lalu membiarkan publik melihat sendiri bagaimana seorang mantan presiden menghadapi media yang telah memiliki posisi tertentu dalam pertarungan persepsi politik.
Oleh karena itu, sebuah kontras dapat terbentuk. Bukan kontras yang diumumkan dan bukan pula perbandingan yang dipaksakan, tetapi kontras yang ditemukan sendiri oleh publik. Dalam politik, ini justru bisa menjadi bentuk komunikasi yang efektif.
Ketika seorang politisi mengatakan dirinya berbeda, publik masih bisa membantah. Tetapi ketika publik merasa melihat perbedaan itu sendiri, pesan tersebut memiliki daya yang lain.
Mungkin karena itu Prabowo tidak perlu disebut. Seseorang tidak selalu perlu menyebut nama lawannya untuk menunjukkan bahwa ia berbeda. Cukup memperlihatkan bagaimana ia memperlakukan simbol yang sama.
Jokowi tidak perlu menyerang simbol yang diasosiasikan dengan lawannya. Ia cukup memperlakukannya dengan cara yang berbeda. Selebihnya, publik yang membangun perbandingan.
Dan kalau pembacaan ini benar, Bocor Alus mungkin datang ke Solo sebagai media. Tetapi pertemuan itu kemudian menghasilkan sesuatu yang lebih menarik: sebuah simbol yang ditempatkan di panggung berbeda, lalu dibiarkan berbicara melalui persepsi publik.











