Bank Bullion: Menjadikan Emas Bukan Sekadar Pajangan

- Penulis

Senin, 11 Agustus 2025 - 16:25 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Imaduddin Al Fanani/Ekonom muda, entrepreneur, dan mahasiswa Ekonomi Islam.      
(Dok. Pribadi).

Imaduddin Al Fanani/Ekonom muda, entrepreneur, dan mahasiswa Ekonomi Islam. (Dok. Pribadi).

Oleh Imaduddin Al Fanani / Ekonom muda, entrepreneur, dan mahasiswa Ekonomi Islam

Emas adalah simbol ketahanan, tetapi di Indonesia, emas selama ini hanya diam di tempat—disimpan rapi di rumah, menjadi mahar pernikahan atau sekadar warisan turun-temurun. Padahal, emas bisa lebih dari itu: ia bisa bergerak, berputar, dan memberdayakan. Inilah yang coba dibawa oleh kehadiran Bank Bullion, sebuah model perbankan baru yang menghimpun dan menyalurkan emas sebagai bagian dari sistem keuangan formal.

Pada 26 Februari 2025 lalu, Presiden meresmikan operasional Bank Bullion pertama di Indonesia melalui Bank Syariah Indonesia (BSI). Ini bukan sekadar seremoni, melainkan bagian dari transformasi besar sektor keuangan nasional. UU No. 4 Tahun 2023 tentang P2SK dan POJK No. 17 Tahun 2024 sudah menjadi dasar hukum kegiatan usaha bullion, yang mencakup simpanan, pembiayaan, perdagangan, dan penitipan emas.

Namun, sebagai mahasiswa Ekonomi Islam dan pelaku usaha, saya melihat bahwa fondasi regulasi belum cukup. Ada kekosongan serius dalam hal penjaminan simpanan emas. Emas yang disimpan dalam bentuk unallocated account belum dijamin oleh LPS sebagaimana deposito uang. Padahal, menurut KH Ma’ruf Amin, emas kini sudah menjadi komoditas, bukan alat tukar. Maka wajar jika diperjualbelikan, tapi tetap harus dijamin demi menjaga maslahat publik.

KH Ma’ruf Amin pernah menekankan, sistem muamalah zaman dahulu adalah sahibul māl—yang punya harta bisa bermitra dengan pengelola yang tidak punya modal. Dulu sistem ini berjalan alami, kini fiqih muamalah hanya dibaca dalam buku, tidak hidup dalam praktik. Bank Bullion adalah upaya menghidupkan kembali sistem itu, memberi ruang bagi masyarakat untuk menyimpan emas, dan bagi perbankan untuk mengelolanya secara produktif dan syar’i. Beliau juga menambahkan bahwa “menghalalkan yang haram” bisa terjadi bila prosesnya dibenarkan syariat—seperti pernikahan yang menghalalkan hubungan dua lawan jenis. Maka, pengelolaan emas pun bisa jadi sah jika memenuhi prinsip kehati-hatian, kejelasan akad, dan bebas dari spekulasi yang berbahaya.

Baca Juga :  Kebanyakan Kader

Menurut Abdul Hakam Naja, peneliti CSED-INDEF, Bank Bullion di Indonesia punya dasar kuat di Pasal 130 UU P2SK—sebuah capaian yang bahkan belum banyak negara miliki. Tapi ia juga mengingatkan soal tantangan besar: resiko kredit, fluktuasi harga emas (resiko pasar), dan likuiditas. Bank harus sanggup menjual emas kapan saja dan di mana saja. Jika tidak, sistem akan rentan. Ironisnya, Bank Indonesia sudah tujuh tahun tak membeli emas, hanya menyimpan sekitar 7,8 ton. Artinya, integrasi pasar emas dalam sistem moneter nasional masih jauh dari ideal.

Hal lain yang patut jadi perhatian adalah kenapa OJK mensyaratkan modal minimum Rp15 triliun bagi bank yang ingin menyelenggarakan layanan bullion? Menurut Hakam, langkah ini penting agar bukan hanya BSI dan Pegadaian (yang asetnya Rp400 triliun dan Rp120 triliun), tetapi juga bank swasta nasional bisa ikut masuk. Dengan begitu, ekosistem emas dalam sistem keuangan akan semakin inklusif dan merata.

Dari sisi keuangan syariah, Bank Bullion bukan hanya peluang bisnis. Ini adalah momentum besar untuk mengembalikan emas sebagai alat peradaban ekonomi Islam. Skema gold-to-gold financing memungkinkan UMKM mendapat modal tanpa menjual aset. Inovasi digital seperti e-wallet emas, tokenisasi emas, hingga tabungan emas syariah bisa menjangkau generasi muda dan komunitas unbanked dengan lebih baik.

Memang, infrastrukturnya belum sempurna. Pemurnian emas lokal masih rendah. Literasi publik tentang emas pun belum merata. Tapi bila langkah ini konsisten didorong, emas tidak lagi hanya sekadar pajangan atau investasi pasif, melainkan benar-benar menjadi bagian dari sistem keuangan yang berdaya, berkeadilan, dan berorientasi jangka panjang.

 

Editor: Topan Bagaskara

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel pusat-berita.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Budaya, Identitas, dan Aktivasi Ruang di Indarung
Mimpi yang Retak di Tengah Kota
Pesta Babi dan Luka Ekologis Papua
Zaman yang Merayakan Kekeruhan
Ketika Dapur Menjadi Arena Politik Kebudayaan
Pesta Babi dan Upaya Sistematis Membungkam Papua
Aktivis Kampus Mandul Bentangkan Spanduk Penyesalan
Democratic Backsliding: Dari Jokowi, Prabowo, hingga Luka Papua
Berita ini 17 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 22 Juni 2026 - 13:51 WIB

Budaya, Identitas, dan Aktivasi Ruang di Indarung

Kamis, 11 Juni 2026 - 11:37 WIB

Mimpi yang Retak di Tengah Kota

Selasa, 9 Juni 2026 - 10:27 WIB

Pesta Babi dan Luka Ekologis Papua

Selasa, 9 Juni 2026 - 03:41 WIB

Zaman yang Merayakan Kekeruhan

Selasa, 2 Juni 2026 - 12:38 WIB

Ketika Dapur Menjadi Arena Politik Kebudayaan

Berita Terbaru

Abdul Hakim, Direktur Center for Resistance and Liberation Studies STISNU Nusantara Kota Tangerang (foto/istimewa)

Opini

Budaya, Identitas, dan Aktivasi Ruang di Indarung

Senin, 22 Jun 2026 - 13:51 WIB