TANGERANG, PUSATBERITA — Pengurus Cabang Serikat Mahasiswa Muslimin Indonesia (SEMMI) Tangerang menggelar nonton bareng (nobar) dan diskusi film Women from Rote Island karya Jeremias Nyangoen, Jumat (21/8/2026) malam.
Kegiatan berlokasi di Sekretariat SEMMI Tangerang itu mengangkat tema “Ketika Tradisi Berhadapan dengan Keadilan: Menyoal Tubuh, Martabat, dan Perlawanan Perempuan” dengan menghadirkan Kabid Perempuan SEMMI Tangerang, Uswatun Hasanah, sebagai pemantik diskusi.
Diskusi menyoroti kekerasan seksual, rape culture, victim blaming, stigma, serta relasi antara tradisi dan keadilan perempuan.
Uswatun mengatakan, kekerasan terhadap perempuan tidak berhenti pada tindakan pelaku. Korban juga dapat menghadapi penghakiman, tekanan sosial, hingga tuntutan untuk diam demi menjaga nama baik.

“Film ini mengajak kita melihat bahwa kekerasan seksual bukan hanya persoalan antara korban dan pelaku. Ada lingkungan sosial yang ikut menentukan apakah korban mendapatkan keadilan atau justru kembali disalahkan. Ketika korban dipertanyakan, dibungkam, atau diminta menerima keadaan demi menjaga nama baik, di situlah rape culture bekerja,” ujar Uswatun.
Menurutnya, rape culture tidak selalu muncul dalam bentuk pembenaran terhadap kekerasan seksual. Budaya tersebut juga dapat hadir melalui candaan, stigma, pembiaran, maupun pertanyaan yang justru menyalahkan korban.
Ia menilai praktik victim blaming perlu dihentikan karena dapat membuat korban semakin tertekan dan memilih diam. Masyarakat, kata Uswatun, perlu berani bersuara ketika melihat kekerasan dan tidak menjadikan korban sebagai pihak yang harus bertanggung jawab atas kekerasan yang dialaminya.
Persoalan tradisi juga menjadi perhatian dalam diskusi. Uswatun menegaskan bahwa tradisi dan kebudayaan tidak semestinya diposisikan sebagai musuh perempuan. Namun, tradisi tidak boleh dijadikan alasan untuk mempertahankan praktik yang menghilangkan hak atas tubuh, keselamatan, martabat, dan keadilan.

“Tradisi tidak boleh menjadi alasan untuk menghilangkan hak seseorang atas tubuh, keselamatan, martabat, dan keadilan. Ketika atas nama tradisi perempuan diminta diam terhadap kekerasan, maka yang harus dipertanyakan bukan hanya korbannya, tetapi juga cara kita memahami tradisi,” tuturnya.
Uswatun juga menilai mahasiswa memiliki peran penting dalam membongkar normalisasi kekerasan. Kampus dan organisasi mahasiswa, kata dia, harus menjadi ruang yang mendorong keberanian untuk bersuara sekaligus membangun keberpihakan kepada korban.
Melalui kegiatan tersebut, SEMMI Tangerang mendorong mahasiswa menjadikan Women from Rote Island sebagai ruang refleksi untuk melihat persoalan perempuan secara lebih kritis, terutama terkait kekerasan, relasi kuasa, stigma, victim blaming, tradisi, dan keadilan.











