CIANJUR, PUSATBERITA — Langit masih gelap ketika 20 orang mulai berkumpul di titik keberangkatan. Sebagian saling menyapa untuk pertama kalinya, sebagian lain sibuk merapikan carrier yang akan menemani perjalanan selama dua hari ke depan. Aroma kopi hangat berpadu dengan udara pagi yang dingin, sementara semangat petualangan perlahan mengusir rasa kantuk.
Mereka datang dari latar belakang yang berbeda. Ada mahasiswa, pekerja, hingga pegiat alam bebas. Namun, pada Minggu-Senin, 28–29 Juni 2026, semuanya dipersatukan oleh tujuan yang sama: menapaki Gunung Gede melalui Jalur Putri dalam kegiatan Open Trip yang diselenggarakan Expedition Sua.ra Alam berkolaborasi dengan Persatuan Pecinta Alam Sukarelawan (Persapalas).
Mengusung tema “Jelajah Alam, Temukan Diri dan Jaga Bumi” kegiatan ini tidak sekadar mengajak peserta menikmati keindahan pegunungan. Lebih dari itu, pendakian menjadi ruang belajar untuk mengenali diri, mempererat persaudaraan, serta menumbuhkan kesadaran bahwa alam adalah rumah yang harus dijaga bersama.
Memasuki Jalur Putri, suasana kota perlahan menghilang. Rimbunnya pepohonan, udara pegunungan yang sejuk, dan suara burung yang bersahutan menyambut setiap langkah. Tidak ada lagi hiruk-pikuk kendaraan ataupun dering telepon genggam. Yang terdengar hanyalah derap kaki para pendaki, napas yang mulai berat di setiap tanjakan, dan sapaan sederhana yang perlahan mencairkan keakraban di antara mereka.

“Di gunung, semua orang menjadi sama. Tidak ada jabatan, tidak ada status. Yang ada hanyalah saling menjaga agar semua bisa sampai dengan selamat,” ujar Ketua Pelaksana, Irfan Maulana, di sela perjalanan.
Menurut Irfan, tema yang diusung bukan sekadar slogan. Pendakian ini diharapkan menjadi pengalaman yang mampu mengubah cara pandang peserta terhadap alam.
“Kami ingin peserta pulang bukan hanya membawa foto-foto indah, tetapi juga pengalaman yang mengubah cara mereka memandang alam. Gunung mengajarkan kita rendah hati, saling peduli, dan bertanggung jawab. Ketika kita menjaga alam, sesungguhnya kita sedang menjaga kehidupan,” kata Irfan.
Perjalanan menuju setiap pos berlangsung penuh dinamika. Ada yang melangkah cepat, ada pula yang beberapa kali berhenti mengatur napas. Namun, tak seorang pun berjalan sendirian. Ketika ada peserta yang mulai kelelahan, peserta lain bergantian menyemangati, menawarkan air minum, bahkan membantu membawa sebagian perlengkapan. Tanpa disadari, rasa kekeluargaan tumbuh di sepanjang jalur.
Langit mulai menggelap ketika rombongan memasuki etape terakhir menuju Pos 4 Persimpangan Maleber. Selepas waktu Magrib, seluruh peserta akhirnya tiba di lokasi perkemahan. Wajah-wajah lelah perlahan berubah menjadi senyum lega. Tenda-tenda segera didirikan, sementara sebagian peserta menyiapkan makan malam dan minuman hangat untuk memulihkan tenaga setelah seharian menapaki jalur pendakian.

Malam di Persimpangan Maleber menghadirkan suasana yang tenang. Jauh dari hiruk-pikuk perkotaan, hanya terdengar desir angin yang menyapu pepohonan dan sesekali suara serangga malam. Di sela keheningan itu, percakapan mengalir hangat. Ada yang berbagi cerita tentang pekerjaan, keluarga, hingga alasan mengikuti pendakian. Sebagian peserta memilih beristirahat lebih awal, sementara yang lain menikmati malam pegunungan sembari mempersiapkan tenaga untuk perjalanan esok hari.
Bagi Zahra, salah seorang peserta yang baru pertama kali mendaki Gunung Gede, perjalanan ini menjadi pengalaman yang mengubah cara pandangnya.
“Saya kira mendaki hanya soal mencapai puncak. Ternyata justru perjalanan menuju ke sana yang mengajarkan banyak hal. Saya belajar sabar, belajar percaya pada teman, dan belajar bahwa alam tidak boleh diperlakukan sembarangan,” ungkap Zahra.
Pengalaman serupa dirasakan Barok, peserta lainnya.
“Dua hari tanpa sibuk melihat layar ponsel ternyata membuat pikiran jauh lebih ringan. Di gunung kita dipaksa hadir sepenuhnya di setiap langkah. Itu pengalaman yang sangat berharga,” ucap Barok.
Keesokan paginya, suasana di Persimpangan Maleber kembali hidup. Setelah sarapan, mempersiapkan perlengkapan, dan mengikuti briefing singkat, tepat sekitar pukul 07.00 WIB rombongan melanjutkan perjalanan menuju Surya Kencana dan Puncak Gunung Gede.
Perlahan, jalur hutan berganti dengan hamparan Surya Kencana yang diselimuti embun pagi. Padang edelweiss yang membentang luas menyambut langkah para pendaki. Pemandangan itu seolah menjadi hadiah sebelum mereka menghadapi tanjakan terakhir menuju puncak.

Semakin mendekati Puncak Gunung Gede, jalur yang dilalui semakin menantang. Meski langkah mulai melambat dan napas semakin berat, tak ada yang memilih menyerah. Semangat kebersamaan terus terjaga hingga satu per satu peserta akhirnya menginjakkan kaki di puncak. Hamparan pegunungan yang membentang luas, langit yang cerah, dan udara pegunungan yang bersih seolah membayar seluruh perjuangan selama dua hari perjalanan.
Namun, perjalanan itu tidak berhenti di puncak. Seluruh peserta kembali diingatkan bahwa pencapaian sejati bukanlah berdiri di titik tertinggi, melainkan mampu pulang dengan tetap menjaga kelestarian alam. Sampah pribadi dikumpulkan kembali, jalur tetap dijaga bersih, dan setiap peserta memastikan tidak meninggalkan jejak selain cerita.
Kolaborasi Expedition Sua.ra Alam dan Persapalas menjadi bukti bahwa komunitas pecinta alam memiliki peran penting dalam membangun budaya pendakian yang bertanggung jawab. Melalui kegiatan seperti ini, pendakian bukan lagi sekadar aktivitas rekreasi, melainkan ruang pendidikan karakter, penguatan solidaritas, dan peningkatan kesadaran lingkungan.
Bagi 20 peserta yang menapaki lereng Gunung Gede selama dua hari itu, keindahan sesungguhnya ternyata bukan hanya berada di puncak. Keindahan itu hadir dalam tangan yang saling menguatkan saat tanjakan terasa berat, dalam tawa yang pecah di depan tenda, dalam keheningan malam di Persimpangan Maleber, dan dalam kesadaran bahwa alam selalu memberi pelajaran bagi siapa pun yang datang dengan rasa hormat.
Tema “Jelajah Alam, Temukan Diri dan Jaga Bumi” tidak berhenti sebagai rangkaian kata. Ia menjelma menjadi pengalaman yang dibawa pulang oleh setiap peserta—bahwa setiap langkah di atas jalur pendakian adalah pelajaran tentang ketekunan, setiap perjalanan adalah kesempatan untuk mengenali diri, dan setiap gunung yang didaki menyimpan amanah untuk tetap dijaga.
Karena sejatinya, mendaki bukan tentang menaklukkan gunung. Mendaki adalah perjalanan untuk menemukan diri, merawat persaudaraan, dan menjaga bumi yang menjadi rumah bagi semua.











