Perjuangan Barkah Al Ganis: Gadaikan Nyawa Demi Kemerdekaan

- Penulis

Sabtu, 22 Maret 2025 - 08:04 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Foto : Pribadi

Foto : Pribadi

Penulis: Heru Andika

22 Desember 1928Kongres Perempuan Pertama di Yogyakarta, awal dikukuhkan Hari Ibu Seantero Nusantara. Barkah Al Ganis ialah salah satu tokoh perempuan yang turut andil bersama perempuan-perempuan Indonesia.

Selain pelopor, Barkah menjadi tampuk perjuangan perempuan Indonesia demi menyongsong kemerdekaan. Menantang kezaliman, melawan penindasan, menyuarakan panji kemerdekaan berkonfrontasi dengan kolonial.

Sejarah mencatat, Barkah bersama beberapa aktivis perempuan berangkat dari Tegal menuju Yogyakarta. Membawa konsep, pikiran dan gagasan demi melepaskan Indonesia dari belenggu Belanda.

—Di stasiun Tegal, Barkah dan aktivis perempuan lainnya hendak berangkat menaiki kereta api menuju lokasi Kongres. Semangat. Bergairah. Bergelora api perjuangan laksana Api Abadi Mrapen berkobar dalam jiwa-jiwa mereka.

Tidak ada hambatan, bukan perjuangan namanya. Saat hendak masuk ke dalam gerbong, beberapa petugas Belanda dengan tatapan mata seperti kuku-kuku setan merobek-robek urat nadi, menghadang Barkah dan pejuang perempuan lainnya.

Alih-alih kerbau dicucuk hidungnya, Barkah malahan terus memaksa, merangsek dan hingga terjadi aksi dorong-mendorong antara petugas Belanda dengan pejuang perempuan. Adu mulut tak terhindarkan —membuat suasana semakin mendidih.

Esa hilang, Dua terbilang. Barkah yang disusul pejuang perempuan lainnya menderap maju ke depan moncong lokomotif. Tak peduli matahari menumpahkan panasnya. Para pejuang perempuan menjatuhkan tubuhnya di atas rel yang panas terbakar matahari.

Barkah dan pejuang perempuan lainnya tergeletak —menantang kereta api akan melaju. Dalam aksinya, pekik ucapan bersejarah terdengar yang mengandung jiwa revolusioner dan membawa kesadaran tentang makna dan arti perjuangan perempuan Indonesia, “Berangkatkan kami atau matikan kami!,” lantang Barkah bersama pejuang perempuan saat melawan.

Baca Juga :  66 Tahun PMII: Refleksi Kritis dan Kegagalan IKA PMII Kota Tangerang

Aksi heroik pejuang perempuan yang sudi menggadaikan nyawanya demi sebuah kedaulatan perempuan dan bangsa. Akhirnya bertemu titik, tak mau suasana semakin kacau atas aksi nekat tersebut, petugas akhirnya memberikan ruang terhadap para pejuang perempuan untuk masuk ke dalam Gerbong. Membawa mereka menuju gelanggang Kongres Perempuan I di Yogyakarta.

Barkah Al Ganis (Berdiri) bersama Pejuang Perempuan di sebuah forum.| Foto: aniesbaswedan.com

Begitulah kegagahan dan keberanian Barkah beserta pejuang perempuan lainnya. Mereka tunjukkan kepada kita bahwa kemerdekaan harus diperjuangkan. Penindasan musti dihentikan dan keadilan harus ditegakkan.

Dari kisah di atas saya meyakini bahwa Tuhan telah memberikan kodrat terhadap manusia ialah yang disebut Hak Asasi Manusia. Peristiwa penuh inspiratif, berani, dan kisah perempuan melawan, serta memberikan pengetahuan bahwa tidak ada atas dasar apapun manusia mengalami sebuah penindasan ataupun hak asasinya direnggut oleh siapapun.

Oleh karenanya, kita harus memperjuangkan setiap hak asasi secara fundamental dan prinsipil atas dasar sebagai manusia. Bukan karena kita warga negara, melainkan kita sebagai manusia memanusiakan itu sendiri. Perjuangan ini harus dilakoni terus-menerus setiap harinya dan dimenangkan dengan secara kesadaran kolektif.

 

Editor: Topan Bagaskara


Artikel Lain: Pancasila, Demokrasi, dan Hukum: Pilar Bangsa yang Mulai Terkikis

Satu tanggapan untuk “Perjuangan Barkah Al Ganis: Gadaikan Nyawa Demi Kemerdekaan”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel pusat-berita.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Budaya, Identitas, dan Aktivasi Ruang di Indarung
Mimpi yang Retak di Tengah Kota
Pesta Babi dan Luka Ekologis Papua
Zaman yang Merayakan Kekeruhan
Ketika Dapur Menjadi Arena Politik Kebudayaan
Pesta Babi dan Upaya Sistematis Membungkam Papua
Aktivis Kampus Mandul Bentangkan Spanduk Penyesalan
Democratic Backsliding: Dari Jokowi, Prabowo, hingga Luka Papua
Berita ini 5 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 22 Juni 2026 - 13:51 WIB

Budaya, Identitas, dan Aktivasi Ruang di Indarung

Kamis, 11 Juni 2026 - 11:37 WIB

Mimpi yang Retak di Tengah Kota

Selasa, 9 Juni 2026 - 10:27 WIB

Pesta Babi dan Luka Ekologis Papua

Selasa, 9 Juni 2026 - 03:41 WIB

Zaman yang Merayakan Kekeruhan

Selasa, 2 Juni 2026 - 12:38 WIB

Ketika Dapur Menjadi Arena Politik Kebudayaan

Berita Terbaru

Abdul Hakim, Direktur Center for Resistance and Liberation Studies STISNU Nusantara Kota Tangerang (foto/istimewa)

Opini

Budaya, Identitas, dan Aktivasi Ruang di Indarung

Senin, 22 Jun 2026 - 13:51 WIB