Poster Kritik Sachrudin-Maryono di 100 Hari Kinerja, Abdul Hakim: Bukan Sekadar Satire, Cermin Kekecewaan

- Penulis

Minggu, 1 Juni 2025 - 16:21 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Pengajar Studi Perbandingan Politik STISNU Nusantara Tangerang, Abdul Hakim. | Foto: Pribadi.

TANGERANG, PUSATBERITA – Poster bertuliskan sertifikat penghargaan kepada Sachrudin – Maryono bertebaran diberbagai titik sentral di Kota Tangerang seperti halte, kampus hingga kawasan Pusat Pemerintahan pada Minggu, 1 Juni 2025.

Sertifikat tersebut tertanda berasal dari Suara Sipil untuk mengkritik kinerja pemerintah Kota Tangerang dalam 100 hari menjabat Sachrudin – Maryono sejak dilantiknya 20 Februari 2025.

Menanggapi hal tersebut, Pengajar Studi Perbandingan Politik STISNU Nusantara Tangerang, Abdul Hakim berpendapat bahwa poster yang menyebar di Kota Tangerang, mengkritik kinerja Sachrudin-Maryono, menarik dilihat melalui lensa ‘new social movement’.

“Gerakan sosial baru tidak lagi berfokus pada isu ekonomi klasik seperti upah buruh, melainkan pada kritik terhadap ‘governance’, identitas kultural, dan partisipasi publik,” ucap Abdul Hakim saat diwawancarai, Minggu (1/6) 2025.

Terlihat poster tertempel pada tiang listrik di wilayah kecamatan Tangerang. | Foto: istimewa.

Menurut Hakim, poster ini mendekonstruksi legitimasi kekuasaan, sambil menyoroti isu non-material seperti kebudayaan yang terabaikan dan pembodohan publik melalui program ‘on-the-job training’.

Kritik ini tidak hanya menuntut kebijakan yang lebih substantif, kata Hakim, tetapi juga menantang gaya kepemimpinan yang dianggap terjebak dalam formalitas tanpa solusi konkret.

Hakim meneruskan bahwa poster yang menyebar di Kota Tangerang yang menyematkan ‘penghargaan’ ironis seperti ‘Juara 1 Pemimpin Gemar Seremonial’—bukan sekadar satire, melainkan cermin kekecewaan warga terhadap janji kampanye yang belum terartikulasi dalam 100 hari pertama kepemimpinan Sachrudin-Maryono.

Baca Juga :  Catatan Politik Akhir Tahun 2025: Gen Z dan Retaknya Legitimasi Negara

“Gerakan sipil di balik kritik ini sesungguhnya sedang melakukan ‘accountability tracking’: mengingatkan publik bahwa program 3G (Gampang Kerja, Gampang Sekolah, Gampang Sembako) yang dijanjikan dalam kampanye justru menuai tiga masalah: ketimpangan akses, minimnya inovasi, dan pendekatan yang teknokratik tanpa empati sosial,” tambahnya

Abdul Hakim juga menyoroti pada masa kampanye, duet (Sachrudin-Maryono) ini menjanjikan efisiensi birokrasi dan pemerataan layanan, tetapi poster menyoroti bagaimana ‘Gampang Sekolah’ justru mengabaikan kesejahteraan guru, sementara ‘Gampang Sembako’ tidak menyentuh akar mahalnya harga pangan.

“Kritik terhadap ‘on-the-job training’ yang disebut proyek pembodohan publik juga menarik: program ini dianggap sekadar lip service, alih-alih solusi struktural untuk pengangguran. Gerakan sipil di sini bertindak sebagai ‘watchdog’ yang memaksa pemerintah mengingat bahwa janji kampanye bukanlah slogan, melainkan kontrak sosial,” tegas Hakim ketika menguliti janji kampanye Sachrudin-Maryono.m

Selanjutnya, Hakim mengingatkan yakni poster ini adalah alarm, yang artinya jika pemerintah hanya berpuas diri dengan seremonial dan jargon, sementara masalah warga diabaikan, gerakan sipil tidak akan berhenti pada selebaran—ia bisa berkembang menjadi resistensi yang lebih masif. Tantangan bagi Sachrudin-Maryono bukanlah menghapus poster, melainkan membuktikan bahwa 3G bukanlah tiga huruf kosong.


Artikel Lain: Bau Busuk Akibat Tumpukan Sampah di Trotoar JLS Cilegon

Follow WhatsApp Channel pusat-berita.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Seniman Gelar Aksi Tolak Komersialisasi Taman Ismail Marzuki
Mahasiswa STISNU Tangerang Tumbuhkan Literasi Lewat Taman Baca
Pesan Gus Dur Menggema di Refleksi Waisak Nasional PKB di Tangerang
DPD GAMKI Jawa Barat: Wacana Geser Polri, Ancaman Serius Bagi Supremasi Hukum
Panitia Natal Nasional Bantu Warga Langowan, Manado dan Tomohon
Banjir Bandang Landa Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah, Akibat Hujan Lebat
Warga Duren Village Tangerang keluhkan Tanggul Terlalu Pendek
Titik Temu Demitologi dan Teologi dalam Menganalisa Bencana Alam
Berita ini 15 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊

Berita Terkait

Rabu, 12 Agustus 2026 - 18:49 WIB

Seniman Gelar Aksi Tolak Komersialisasi Taman Ismail Marzuki

Sabtu, 8 Agustus 2026 - 17:48 WIB

Mahasiswa STISNU Tangerang Tumbuhkan Literasi Lewat Taman Baca

Minggu, 17 Mei 2026 - 17:42 WIB

Pesan Gus Dur Menggema di Refleksi Waisak Nasional PKB di Tangerang

Kamis, 29 Januari 2026 - 19:53 WIB

DPD GAMKI Jawa Barat: Wacana Geser Polri, Ancaman Serius Bagi Supremasi Hukum

Senin, 26 Januari 2026 - 20:10 WIB

Panitia Natal Nasional Bantu Warga Langowan, Manado dan Tomohon

Berita Terbaru

Lapas Kelas IIA Cibinong yang sempat bersitegang saat kunjungan Ombudsman RI. (Liputan6.com/Dicky Agung Prihanto)

Nasional

Fasilitas Mewah di Lapas Cibinong, DPR Panggil Kementerian

Kamis, 24 Sep 2026 - 14:39 WIB

Penampakan fasilitas mewah yang menjadi temuan Ombudsman RI di Lapas Kelas IIA Cibinong, Kecamatan Cibinong, Kabupaten Bogor, Kamis (24/9/2026). (Foto/Tribunnews Bogor).

Nasional

Ombudsman Soroti Fasilitas Rumah Dinas di Lapas Cibinong

Kamis, 24 Sep 2026 - 13:15 WIB