Ketika Dapur Menjadi Arena Politik Kebudayaan

- Penulis

Selasa, 2 Juni 2026 - 12:38 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Foto: Abdul Hakim/Istimewa

Foto: Abdul Hakim/Istimewa

Oleh Abdul Hakim | Senior Advisor Lab Teater Ciputat


Dalam percaturan global abad ke-21, diplomasi budaya telah berkembang jauh melampaui fungsi-fungsi tradisional yang selama ini identik dengan hubungan antarnegara.

Jika pada masa lalu diplomasi sering diwujudkan melalui perjanjian politik, kerja sama ekonomi, atau pertukaran resmi antarpejabat negara, maka hari ini budaya justru menjadi salah satu instrumen paling efektif untuk membangun pengaruh, menciptakan kedekatan emosional, dan membentuk persepsi publik internasional.

Dalam konteks inilah makanan, seni, dan ruang publik memperoleh posisi strategis sebagai medium dialog lintas bangsa. Jepang dan Korea Selatan merupakan contoh paling nyata bagaimana kebudayaan dapat diubah menjadi kekuatan diplomatik yang sangat efektif.

Selama beberapa dekade terakhir, kedua negara tersebut secara konsisten berinvestasi pada ekosistem budaya sebagai bagian dari strategi nasional mereka. Jepang tidak hanya mengekspor teknologi dan industri otomotif, tetapi juga memperkenalkan dunia pada sushi, ramen, manga, anime, hingga konsep estetika keseharian yang kini menjadi bagian dari imajinasi global.

Demikian pula Korea Selatan. Gelombang Hallyu tidak lahir secara kebetulan. Ia merupakan hasil investasi panjang yang menghubungkan musik, film, televisi, mode, seni pertunjukan, hingga kuliner Korea menjadi satu kesatuan narasi nasional yang kuat.

Fakta yang menarik, keberhasilan Jepang dan Korea Selatan tidak hanya terletak pada kemampuan mereka mempertahankan tradisi, tetapi pada keberanian untuk menerjemahkan tradisi ke dalam bahasa budaya kontemporer yang dapat dipahami publik global.

Kimchi tidak lagi dipahami semata-mata sebagai makanan fermentasi keluarga Korea. Ia telah menjadi simbol identitas nasional. Demikian pula sushi tidak lagi sekadar makanan Jepang, melainkan representasi gaya hidup, estetika, dan filosofi Jepang yang beredar di seluruh dunia.

Pertanyaannya kemudian: di manakah posisi Indonesia dalam lanskap diplomasi budaya global tersebut? Pertanyaan ini menjadi semakin relevan ketika kita menyadari bahwa Indonesia sesungguhnya memiliki salah satu kekayaan kuliner terbesar di dunia.

Nusantara memiliki ribuan resep tradisional, ratusan tradisi pangan lokal, serta sejarah panjang jalur rempah yang selama berabad-abad menghubungkan Asia, Timur Tengah, Afrika, dan Eropa. Ironisnya, kekayaan tersebut belum sepenuhnya diterjemahkan menjadi kekuatan diplomasi budaya yang sistematis.

Indonesia sering kali masih terjebak pada pendekatan folkloris yang menempatkan budaya sebagai artefak masa lalu yang dipamerkan secara seremonial, bukan sebagai kekuatan hidup yang mampu membangun percakapan global.

Di sinilah pentingnya merevitalisasi tradisi kuliner, khususnya rendang dengan Marandang: Api, Rempah, dan Ingatan. Inisiatif ini tidak berangkat dari logika festival kuliner biasa yang hanya menampilkan makanan sebagai objek konsumsi.

Sebaliknya, ia berupaya mengembalikan makanan pada posisi asalnya sebagai arsip kebudayaan. Dalam perspektif cultural studies, makanan bukan sekadar benda yang dimakan, melainkan medan produksi makna. Makanan menyimpan jejak sejarah, relasi kuasa, migrasi manusia, pertukaran budaya, hingga ingatan kolektif suatu masyarakat.

Stuart Hall mengingatkan bahwa identitas budaya bukan sesuatu yang statis, melainkan terus diproduksi melalui representasi. Dalam konteks tersebut, rendang bukan hanya masakan khas Minangkabau. Rendang adalah representasi tentang ketahanan budaya, perjalanan diaspora, kerja kolektif, dan filosofi hidup masyarakat Minang.

Ketika rendang dimasak secara terbuka di ruang publik internasional, yang dipertontonkan bukan semata-mata teknik memasak, melainkan keseluruhan narasi sosial yang menyertainya. Karena itu, Marandang menjadikan dapur sebagai panggung utama.

Pilihan ini bukan keputusan artistik yang netral. Secara simbolik, dapur merupakan ruang yang selama ini sering dianggap domestik, privat, bahkan tidak penting dalam sejarah besar peradaban. Namun justru di ruang inilah pengetahuan diwariskan dari generasi ke generasi.

Baca Juga :  ‎Kaum Bohemian Menjelma Hewan Ternak Kekuasaan

Di dapur tersimpan ingatan keluarga, praktik gotong royong, hubungan manusia dengan alam, serta berbagai bentuk pengetahuan yang sering kali luput dari perhatian institusi formal. Melalui pertunjukan di tepi Sungai Han, aktivitas memasak diubah menjadi bahasa artistik yang kompleks.

Di sini, bunyi talempong bertemu dengan perkusi Korea. Gerak mengaduk rendang berubah menjadi koreografi. Asap kayu bakar menjadi elemen visual. Aroma rempah menjadi bagian dari dramaturgi. Dengan demikian, publik tidak hanya menyaksikan Indonesia, tetapi mengalami Indonesia melalui seluruh indera mereka.

Pilihan lokasi di Seoul Street Arts Festival juga memiliki makna yang sangat strategis. Festival ini merupakan salah satu contoh bagaimana kota modern dapat menjadikan seni sebagai infrastruktur sosial. Di tengah urbanisasi yang semakin cepat, kompetisi ekonomi yang ketat, dan fragmentasi kehidupan metropolitan, Seoul justru menghadirkan ruang publik sebagai arena perjumpaan budaya.

Festival jalanan seperti ini menunjukkan bahwa seni bukan pelengkap pembangunan kota, melainkan bagian penting dari pembangunan itu sendiri. Dalam perspektif kota kreatif, ruang publik yang hidup tidak dibangun hanya dengan gedung pencakar langit atau infrastruktur fisik, tetapi juga melalui pengalaman budaya yang memungkinkan warga dan pengunjung bertemu dalam situasi yang setara.

Seoul Street Arts Festival telah menunjukkan bagaimana seni mampu menjadi jembatan antara komunitas lokal dan dunia internasional. Festival ini memperlihatkan bahwa kota modern tidak harus kehilangan dimensi kemanusiaannya.

Keterlibatan seniman Indonesia dalam forum seperti Seoul Street Arts Festival memiliki arti yang jauh lebih besar daripada sekadar tampil di panggung internasional. Kehadiran mereka merupakan bagian dari proses negosiasi identitas budaya Indonesia di ruang global.

Ini adalah kesempatan untuk memperkenalkan Nusantara bukan sebagai objek eksotisme yang membeku dalam masa lalu, melainkan sebagai kebudayaan hidup yang terus berkembang, beradaptasi, dan berdialog dengan dunia.

Lebih jauh lagi, keterlibatan tersebut juga menjadi bentuk perlawanan terhadap ketimpangan representasi budaya global. Selama ini arus utama budaya internasional masih didominasi oleh negara-negara dengan kapasitas produksi budaya yang kuat.

Akibatnya, banyak tradisi dan pengetahuan lokal dari kawasan Asia Tenggara hanya muncul sebagai catatan pinggiran. Padahal, sejarah dunia modern tidak dapat dipisahkan dari jalur rempah Nusantara yang pernah menjadi salah satu pusat ekonomi global.

Melalui Marandang, sejarah tersebut dihadirkan kembali dalam bentuk yang relevan dengan publik masa kini. Rempah tidak lagi diperlakukan sebagai komoditas masa lalu, tetapi sebagai medium dialog lintas budaya. Memasak tidak lagi dipahami sebagai pekerjaan domestik semata, melainkan sebagai praktik artistik dan sosial.

Makan bersama tidak hanya menjadi aktivitas konsumsi, tetapi tindakan simbolik yang membangun solidaritas. Kekuatan utama kolaborasi budaya ini terletak pada kemampuannya menghubungkan berbagai lapisan pengalaman manusia: tubuh, rasa, aroma, bunyi, ingatan, dan sejarah.

Di tengah dunia yang semakin terdigitalisasi dan individualistik, pengalaman kolektif semacam ini menjadi semakin penting. Ia mengingatkan bahwa kebudayaan bukan sekadar warisan yang disimpan di museum, melainkan sesuatu yang terus hidup melalui praktik sehari-hari.

Di tepi Sungai Han, Nusantara bukan sebagai folklor eksotis yang dipertontonkan kepada dunia, melainkan sebagai mitra percakapan yang setara melalui api, rempah, tubuh, musik, dan makanan.

Masa depan diplomasi budaya tidak dibangun melalui pidato-pidato resmi, melainkan melalui pengalaman manusia yang dibagikan bersama. Dalam hal itu, dapur menjadi salah satu panggung diplomasi paling kuat yang pernah dimiliki peradaban.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel pusat-berita.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Pesta Babi dan Upaya Sistematis Membungkam Papua
Aktivis Kampus Mandul Bentangkan Spanduk Penyesalan
Democratic Backsliding: Dari Jokowi, Prabowo, hingga Luka Papua
Demokrasi Tidak Mati Mendadak Tapi Dilemahkan Perlahan
Pasca 1 dan 2 Mei; Presiden, Buruh, Guru
Fenomena Film Dokumenter Pesta Babi: Krisis Identitas Negara Dalam Kacamata Psikologi Sosial
Kebebasan Palsu di Era Kapitalisme Digital
Republik dalam Ruang Gema
Berita ini 36 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 2 Juni 2026 - 12:38 WIB

Ketika Dapur Menjadi Arena Politik Kebudayaan

Rabu, 27 Mei 2026 - 09:33 WIB

Pesta Babi dan Upaya Sistematis Membungkam Papua

Sabtu, 23 Mei 2026 - 17:40 WIB

Aktivis Kampus Mandul Bentangkan Spanduk Penyesalan

Rabu, 20 Mei 2026 - 11:28 WIB

Democratic Backsliding: Dari Jokowi, Prabowo, hingga Luka Papua

Sabtu, 16 Mei 2026 - 17:43 WIB

Demokrasi Tidak Mati Mendadak Tapi Dilemahkan Perlahan

Berita Terbaru

Foto: Abdul Hakim/Istimewa

Opini

Ketika Dapur Menjadi Arena Politik Kebudayaan

Selasa, 2 Jun 2026 - 12:38 WIB

Insiden penusukan di klinik gigi (Foto: Ilustrasi)

Banten

Perawat Klinik Gigi Ditusuk Pasien di Tangerang

Senin, 1 Jun 2026 - 15:57 WIB