‎Ide Pilkada Oleh DPRD, Cendekiawan: Partisipatif ke Ranah Elitis

- Penulis

Rabu, 31 Desember 2025 - 14:07 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Cendekiawan muda Nahdlatul Ulama (NU) Banten, Abdul Hakim (Foto/Istimewa).

Cendekiawan muda Nahdlatul Ulama (NU) Banten, Abdul Hakim (Foto/Istimewa).

TANGERANG, PUSATBERITA – Cendekiawan muda Nahdlatul Ulama (NU) Banten, Abdul Hakim merespon polemik wacana terkait Pemilihan Kepala Daerah oleh Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD).

‎Abdul Hakim berpendapat bahwa hal ini telah menggeser makna kedaulatan rakyat dari ranah partisipatif ke ranah elitis. Menurutnya, kedaulatan yang seharusnya diekspresikan secara langsung melalui suara warga direduksi menjadi mandat tidak langsung yang dimediasi oleh segelintir elite politik.

‎Lebih lanjut, Pengajar Studi Perbandingan Politik STISNU Kota Tangerang menuturkan secara formal, mekanisme ini masih dapat dibenarkan atas nama keterwakilan, karena DPRD dipilih melalui pemilu.

‎”Namun secara substantif, jarak antara kehendak rakyat dan pengambilan keputusan menjadi semakin lebar,” kata Abdul Hakim, Rabu (31/12) 2025.

‎Berdasarkan hal tersebut, kepala daerah lebih berpotensi merasa bertanggung jawab kepada partai dan fraksi di DPRD ketimbang kepada publik luas. Akibatnya, legitimasi demokrasi cenderung bersifat prosedural.

Baca Juga :  Menpora Erick Thohir Tutup Piala Presiden U-12 dan U-15 2025 di Surabaya

‎”Memang sah menurut aturan, tetapi rapuh secara sosial karena tidak lahir dari pengalaman partisipasi langsung warga,” ucap Abdul.

‎Dampak lanjutan, Kata Abdul, dari mekanisme ini adalah melemahnya partisipasi publik dan erosi kepercayaan terhadap institusi demokrasi lokal.

‎Ketika rakyat tidak lagi menjadi subjek langsung dalam menentukan pemimpinnya, politik mudah dipersepsi sebagai urusan elite semata, tertutup, dan transaksional.

‎”Prinsip keterwakilan yang idealnya berfungsi sebagai perpanjangan kehendak rakyat justru berisiko berubah menjadi substitusi yang mematikan partisipasi,” ujarnya.

‎Dalam jangka panjang, hal ini dapat menumbuhkan apatisme politik, menurunkan kontrol sosial terhadap kekuasaan daerah, dan menggerus rasa kepemilikan warga atas proses demokrasi.

‎”Demokrasi tetap berjalan, tetapi kehilangan energi utamanya: keterlibatan aktif rakyat sebagai pemegang kedaulatan sejati,” ungkap Abdul Hakim.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Follow WhatsApp Channel pusat-berita.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Dorong Peran Ayah, SMAN 1 Ikuti Gerakan Pengambilan Rapor oleh Orang Tua Laki-laki
Jadi Langganan Banjir, Gerbang Taman Krakatau Tumpah Ruah Curah Hujan Tinggi
Menpora Erick Thohir Tutup Piala Presiden U-12 dan U-15 2025 di Surabaya
Praktik Esek-esek di Lahan Angkasa Pura, Warga: Bongkar bukan disegel
Dana Desa Ohoitahit Rawan Dikorupsi
Bantuan Modal Usaha Langkah Dinsos Kota Tangerang Strategi Transformasi Ekonomi
Tragedi Kekayaan: Masa Lalu Menelan Masa Depan
Membangun solidaritas: Karang Taruna Kecamatan Benda melakukan Pembinaan dan penguatan organisasi
Berita ini 15 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 31 Desember 2025 - 14:07 WIB

‎Ide Pilkada Oleh DPRD, Cendekiawan: Partisipatif ke Ranah Elitis

Kamis, 18 Desember 2025 - 15:22 WIB

Dorong Peran Ayah, SMAN 1 Ikuti Gerakan Pengambilan Rapor oleh Orang Tua Laki-laki

Rabu, 17 Desember 2025 - 02:51 WIB

Jadi Langganan Banjir, Gerbang Taman Krakatau Tumpah Ruah Curah Hujan Tinggi

Kamis, 2 Oktober 2025 - 19:40 WIB

Menpora Erick Thohir Tutup Piala Presiden U-12 dan U-15 2025 di Surabaya

Selasa, 30 September 2025 - 23:06 WIB

Praktik Esek-esek di Lahan Angkasa Pura, Warga: Bongkar bukan disegel

Berita Terbaru